Opini Share articles in social media :
 

Mencari Calon RI 2

Photo
 
Ilustrasi

POL Publikasi Online - Rabu, 2 Agustus 2018
Capres yang sudah deklarasi baru 1 orang (Ir. Joko Widodo), sementara calon lain masih menunggu. Diduga, yang ditunggu adalah keputusan Mahkamah Konstitusi tentang gugatan Ambang Batas Pencalonan Presiden oleh Partai Politik. Mungkin, kalau gugatan terakhir yang meminta Presidential Treeshold ini dibatalkan berhasil, akan muncul beberapa capres lain. Itupun masih hanya mungkin. Kenapa ?. Tentu banyak pertimbangan dan kalkulasi sebelum memutuskan ikut kontestasi Pilpres 2019. Di samping "biaya politik", adalagi faktor elektabilitas.

Bakal Calon lain tentu tidak ingin maju hanya sekedar maju tanpa harapan bisa memenangkan kontestasi ini. Kalau merasa tidak bisa mengungguli Jokowi (dengan cara apapun), terlalu mahal biayanya kalau sekedar untuk coba - coba. Kecuali mereka - mereka punya "mental judi" atau sekedar menaikkan gengsi bahwa meraka sudah pernah menjadi calon presiden. Ada satu lagi!. Kalau mereka menjadi Capres, terbuka peluang meraup dana dari para simpatisannya dengan dalih biaya kampanye. Hal seperti ini telah pernah jadi kenyataan walau tak terbuktikan.

Karena berbicara "saingan" Jokowi belum saatnya, saya lebih cenderung memikirkan siapa Cawapres yang akan mendampinginya nanti.

Di media ini saya pernah menulis, bahwa Cawapres yang ideal untuk mendampingi Jokowi adalah seorang tokoh "kuat dan keras" untuk melindungi "wibawa" Presiden dari hujatan dan kritik yang sembarangan dan tanpa dasar, tapi bisa menguras energi. Saat menulis itu saya beranggapan bahwa Gatot Nurmantyo yang saat itu masih menjadi Panglina TNI dan akan menjalani masa pensiun adalah pilihan yang ideal. Namun situasi berkembang kearah berbeda. Gatot Nurmantyo malah terlihat ingin menjadi pesaing dan berusaha menjadi Capres walau belum terlihat "jalan menuju realita".

Sampai saat ini posisi Gatot Nurmantyo masih mengambang. Terkadang, saya yang suka berkhayal ini punya dugaan, gerakan GN menunjukkan keinginannya menjadi Capres adalah sebuah skenario yang dirancang sebagai "test case" untuk melihat siapa lawan siapa kawan. Saya masih berharap nanti GN dan JKW bisa menjadi satu memimpin Republik ini. Berlanjutnya kepemimpinan Jokowi rasanya masih dibutuhkan oleh bangsa ini demi kelanjutan proses yang sudah dijalani selama empat tahun yang sudah berlalu.

Analisis banyak pengamat dan politikus banyak menyebutkan dan berharap agar JKW memilih Cawapres yang memiliki elektabilits yang cukup, demi menguatkan posisi JKW untuk terpilih lagi nantinya. Dan untuk itu disodorkanlah tokoh - tokoh yang mewakili umat Islam dengan pemikiran dan perhitungan bahwa masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam dapat dirangkul untuk memenangkan JKW.

Tapi saya berfikir beda. Kondisi JKW saat ini dapat dikatakan hampir mirip dengan kondisi SBY pada tahun 2009. Saat itu ada pomeo, disandingkan dengan kambing pun (maaf saya menggunakan bahasa yang kurang intelek), SBY akan memenangkan kontestasi Pilpres masa itu. Dan begitu juga JKW saat ini. Kecuali masyarakat yang termakan "hasutan dan propaganda yang tak berdasar" bertumbuh semakin besar, hampir dapat dipastikan belum ada calon pemimpin bangsa yang terlihat bakal mampu mengalahkan JKW.

Kembali ke calon RI2. Disamping membutuhkan tokoh yang "kuat dan keras", dalam milih calon RI2 JKW juga sebaiknya memikirkan masa depan dan memilih calon wakilnya yang relatf muda namun "bersih dan cukup berwibawa". Semula saya mengidolakan AHY akan mendampingi JKW. Anak muda yang punya karir moncer di TNI berani meninggalkannya demi sebuah jalan pengabdian baru. Seperti saya pernah sebut pada tulisan saya yang lalu di media ini, AHY meninggalkan TNI tidak semata mata untuk memenuhi permintaan ayahanda SBY. Saya menduga, karir moncer di TNI tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Kakek (Jend. Sarwo Eddhi Wibowo) dan pengaruh ayahanda Jend. Susilo Bambang Yudhoyono.

Dia belum merasa jadi dirinya yang sebenarnya bila berkarir di TNI, dan atas dorongan hati sendiri memilih berkiprah di dunia politik. Kalau dugaan saya ini benar, maka adalah sebuah modal yang cukup besar untuk memulai karir politiknya. Sayangnya, ada citra yang tidak harum dari sang ayahanda yang juga harus menjadi bebannya. Kalau itu bisa diabaikan, tak ada salahnya JKW memilih AHY sebagai wakilnya. Kemudian "mendidiknya" untuk mengikuti kiprahnya yang terkenal, "Jujur, sederhana, tidak koruptif, pekerja keras, rendah hati dan diplomatis". Sayang sekali kalau tokoh muda berpotensi seperti AHY tidak mendapat kesempatan berkarir dan menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Atau mungkin dia harus menunjukkan dulu kemampuannya dengan memimpin Partai Demokrat?.

Satu lagi hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih Cawapres adalah perpaduan antara Jawa dan Luar Jawa. Kalau hal ini juga menjadi pertimbangan, masalahnya menjadi agak rumit karena tokoh dengan kategori luar jawa yang dianggap mumpuni dan punya kapabilitas elektabilitas sangat minim. Hanya ada JK yang oleh UU sudah terlarang untuk mengikuti kontestasi. Ada Luhut Binsar Panjaitan dan A Hok yang elektabilitasnya sangat minim serta resistensi terhadap mereka sangat besar. Kedua tokoh ini bahkan bisa mengurangi elektabilias JKW dan hampir tidak mungkin dipilih oleh JKW. Hanya TGB yang paling dekat dengan kemungkinan bila faktor Jawa-Luar Jawa menjadi pertimbangan. Baiknya memang kita harus bersabar sedikit hari lagi.


   
Penulis : Drs. Rudy Marodjahan Saragi
Jabatan : Pemimpin Redaksi
Sumber : -
   

  Design Web & Script Program : Yoanna Moenir Saragi