Opini Share articles in social media :
 

Jokowi Akhirnya "Meledak"

Photo
 
"Apa ini ekspresi marah benar??..."

POL Publikasi Online - Rabu, 8 Agustus 2018
Saya teringat salah satu "joke" Warkop Prambors yang mengisahkan seorang Jawa yang kakinya terinjak ketika bersesakan di dalam bus. Orang Jawa ini memprotes dengan kalimat, "MAS, KAKI MAS DIATAS KAKI SAYA" dengan suara dan sikap yang halus. Sementara digambarkan, seandainya orang Batak yang mengalami hal ini, dia akan spontan dan dengan suara keras dan sikap galak akan berteriak, "Matamu pake!. Kenapa kau injak kakiku?". Joke ini hanya ingin menggambarkan karakter umum dari berbagai suku yang ada di Indonesia yang masing masing memiliki keunikan sendiri. Joke ini kebetulan menggambarkan sikap umumnya saudara kita dari suku Jawa dan suku Batak ketika menghadapi masalah yang sama.

Konteks dari tulisan ini adalah menanggapi pidato Jokowi di hadapan para relawannya baru baru ini yang cukup panjang dan diantaranya menyampaikan kalimat, "Nanti apabila masuk ke tahap kampanye, lakukan kampanye yang simpatik, tunjukkan diri kita adalah relawan yang bersahabat dengan semua golongan, jangan membangun permusuhan, sekali lagi jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran-ujaran kebencian, jangan membangun fitnah - fitnah. Tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang lain, tapi kalau diajak berantem juga berani. Tapi jangan ngajak loh. Saya bilang tadi tolong digarisbawahi, jangan ngajak". Pidato yang cukup panjang ini telah dipakai oleh para "lawan politik" dengan mengutip hanya sepotong dari pidato yang cukup panjang ini yakni kata - kata"..., tapi kalau diajak berantem juga berani", dan menyebutnya antara lain sebagai" memprovokasi masyarakat untuk berantem"..

Bagi saya, hal ini menimbulkan kesedihan dan keprihatinan yang luar biasa. Dalam beberapa tulisan saya terdahulu saya sudah mengatakan bahwa para "lawan politik" Jokowi ini belum ada yang cukup bermutu untuk memimpin bangsa ini karena bisanya hanya mencari - cari kesalahan dan kelemahan Presiden Ir. Joko Widodo. Bahkan menggunakan informasi yang tidak bisa dipertanggung jawabkan untuk memfitnah Jokowi. Peristiwa ini, semakin menguatkan pendapat saya bahwa para lawan politik Jokowi ini memang hanya "kelas kambing" yang menganalisa pidato yang begitu bagus juga tidak mampu, kecuali "mengintip dan mengutip" hal yang bisa dipakai untuk mencela dan menjatuhkan. Tak ada dan mungkin tak akan pernah ada ide yang bagus untuk kemajuan bangsa ini kelak bila cara berfikir yang mereka tampilkan hanya sekelas itu..

Untung Jokowi itu "orang Jawa" yang halus, lurus dan sangat sopan. Kalau beliau orang Batak, menerima segala fitnah dan ucapan - ucapan seperti selama ini, pasti jauh jauh hari dia sudah meledak. Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, konflik horizontal akan berkembang menjadi konflik fisik yang meluas atau penyampaian informasi kelas "comberan" tidak akan pernah berkembang seperti sekarang. Atau juga mungkin, Jokowi menggunakan kekuasaan yang ada ditangannya sebagai presiden untuk "mengkerangkeng" para master mind dari"pre silent coup d'etat" ini..

Inilah yang menjadi dasar pemikiran saya dalam beberapa tulisan saya di media ini, Jokowi perlu memilih wakil yang "keras tapi lurus" untuk mendampinginya pada periode mendatang. Sebaik apapun karakter dan kebijakan yang akan dijalankan oleh Jokowi tidak akan pernah berhenti dari "cemohan dan gangguan" karena orang - orang yang terdampak "tindakan bersih - bersih" yang dilakukan sangat merugikan "para maling uang rakyat serta penikmatnya". Mereka tidak akan berhenti mengganggu Jokowi kecuali maut sudah mengambil mereka atau minimal di penjarakan keseluruhannya.


   
Penulis : Drs. Rudy Marodjahan Saragi
Jabatan : Pemimpin Redaksi
Sumber : -
   

  Design Web & Script Program : Yoanna Moenir Saragi