Opini Share articles in social media :
 

Jokowi Pinjam Strategi Sun Tzu Bikin Kejutan

Photo
 
Ilustrasi

POL Publikasi Online - Senin, 13 Agustus 2018
Akhirnya penantian tentang siapa yang terpilih menjadi cawapres Jokowi berakhir dengan sebuah kejutan. Keputusan memilih Ma'ruf Amin menjadi cawapresnya betul betul diluar dugaan mayoritas pengamat politik / bangsa ini. Kalau semula dekat "deadline" sudah tersiar di kalangan terbatas bahwa Mahfud MD akan menjadi cawapresnya, pilihan dapat diterima akal sehat. Bagaimanapun perlawanan dari kelompok yang menggunakan isu agama (Islam) untuk menyerang petahana harus menjadi hal yang sangat perlu diperhitungkan. Pilkada DKI mau tak mau harus dijadikan salah satu tolok ukur betapa kuat dan brutalnya perlawanan yang dihadapi Jokowi. Perlawanan ini diprediksi akan memakan energi yang cukup besar untuk menanggulanginya, sehingga perlu dipikirkan strategi jitu untuk menghadapinya. Memilih Mahfud MD dianggap akan mampu menangkis serangan pihak "lawan politik" dengan beretika dan ilmiah.

Namun rupanya pilihan ini membuat "segelintir elemen" dalam partai pendukung tidak puas. Apakah karena faktor kecemburuan atau ada kekhawatiran yang disembunyikan masih harus digali lagi lebih dalam. Kondisi ini "memaksa" Jokowi mengeluarkan jurus pamungkas dengan menggunakan "ilmu/strategi" dari ahli perang Tiongkok kuno Sun Tzu atau mungkin juga ilmu/stategi silat Siaw Lim Pay yang beliau dapatkan dari buku silat karangan Khoo Ping Hoo Salah satu dari strategi perang SUN TZU yang dikenal sebagai strategi ke-2 mengatakan :

"Ketika musuh terlalu kuat untuk diserang, seranglah sesuatu yang berharga yang dimilikinya. Ketahui bahwa musuh tidak selalu kuat di semua hal. Entah dimana, pasti ada celah di antara senjatanya, kelemahan pasti dapat diserang. Dengan kata lain, anda dapat menyerang sesuatu yang berhubungan atau dianggap berharga oleh musuh untuk melemahkannya secara psikologis". Ilmu silat Siauw Lim Pay mengajarkan, "Meminjam tenaga lawan untuk menyerang balik".

Ma'ruf Amin yang menjabat sebagai Ketua Majlis Ulama Indonesia, dikenal masyarakat luas sebagai salah seorang "mastermind" yang memberi kekuatan dalam gerakan menggulingkan Ahok pada Pilgub DKI yang lalu. Dan sudah santer diketahui, bahwa A Hok adalah sasaran antara sebelum mencapai Jokowi sebagai target utama untuk digulingkan. Dengan merangkul Ma'ruf Amin, setidaknya menempatkan posisinya di pihak Jokowi, diperhitungkan akan mengendurkan semangat dari kelompok perlawanan dan gerakan "#2019 Ganti Presiden".

Dalam situasi seperti ini, tugas Jokowi tinggal meyakinkan para pendukungnya bahwa apa yang dilakukannya adalah benar - benar demi kepentingan bangsa dan Negara dengan mengambil posisi untuk memenangkan pilpres mendatang tanpa menimbulkan korban dipihak manapun. Sebuah tugas penting lainnya, menjaga soliditas tokoh yang mengaku pro Jokowi jangan sampai menjadi atau disusupi "musuh dalam selimut". Musuh dalam selimut jelas lebih berbahaya dari musuh yang sebenarnya karena keberadaannya tidak terlihat. (


   
Penulis : Drs. Rudy Marodjahan Saragi
Jabatan : Pemimpin Redaksi
Sumber :