Opini Share articles in social media :
 

Menunggu Lahirnya Partai Oposisi Nasional Rasional

Photo
 
Ilustrasi

POL Publikasi Online - Minggu, 19 Agustus 2018
Keterbelahan opini politik masyarakat Indonesia terus berlangsung. Deklarasi dan pendaftaran Capres - Cawapres yang hanya terdiri dari dua pasangan ikut mempertajam pertentangan kedua kubu ini. Mungkin beda jika ada pasangan ketiga yang bisa mengurangi ketegangan suasana politik.

Secara teori, pertentangan kedua kubu ini dapat dikatakan sebagai "perseteruan" antara partai pemerintah dan partai oposisi. Dikatakan demikian, karena kubu Prabowo Subianto selama ini memang menyebut diri mereka atau disebut sebagai partai oposisi yang dipertentangkan dengan partai pendukung pemerintah yang disebut sebagai koalisi. Dan seandainya semua berjalan dengan kaidah kaidah politik berdemokrasi, pilpres mendatang sebenarnya adalah pesta demokrasi yang sangat baik dan berguna untuk "mematangkan" proses bernegara yang demokratis serta ajang pembelajaran berdemokrasi sesuai dengan harapan semua pihak.

Sayangnya, perilaku politik yang dipertontonkan kedua belah pihak jauh dari usaha memberi pendidikan politik kepada masyarakat. Kelompok yang menyebut dan disebut sebagai oposisi sibuk mencari cari kesalahan pemerintah yang terlihat dengan jelas hanya bertujuan menjatuhkan citra pemerintah agar dapat merebut kekuasaan pada pemilu serentak mendatang di tahun 2019. Begitu juga dengan partai koalisi, hanya sibuk melakukan pembelaan diri dengan hanya mengeluarkan argumentasi yang isinya membantah tuduhan oposisi. Memang, secara teori, oposisi memang berfungsi mengkritik kesalahan atau kekurangan partai pemerintah. Tapi semua harus dilakukan dengan rasional dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan etika politik. Tidak membabi buta sampai sampai dengan menjadikan sepotong kalimat dalam pidato presiden sebagai bahan debat tak berkualitas. Sangat terkesan kekanak kanakan dan saya yakin menjadi bahan tertawaan masyarakat politik internasional. Oposisi memang harus berfungsi menunjukkan kelemahan kebijakan dan pelaksanaannya pemerintah, namun sekaligus menunjukkan solusinya.

Saya coba mengambil sebuah contoh kecil. Kritik tentang bertambahnya hutang pemerintah dalam jumlah yang signifikan pengaruhnya terhadap beban rakyat, oposisi seharusnya memberi solusi yang jelas dan dapat dilaksanakan sebagai pilihan alternatif. Misalnya dengan menganjurkan, mengurangi investasi infra struktur yang dibiayai besar besaran dengan hutang, tapi membangun sektor pertanian dimana Indonesia memiliki "added value advantage" seperti intensifikasi pertanian, pencetakan sawah secara massal, menggerakkan tenaga kerja ke bidang pertanian dengan segala fasilitas dan proteksi yang diperlukan. Contoh ini dapat dijabarkan dalam sebuah proposal lengkap yang dapat dipertanggung jawabkan termasuk dengan memaparkan pengurangan pengangguran sebagai dampak ikutannya. Dan hal ini juga sebuah pemecahan dalam persoalan pengurangan kemiskinan serta kesenjangan antara kaya dan miskin. Ini hanya sebuah contoh dari banyaknya alternative yang bisa disodorkan sebagai kritik pada kebijakan pemerintah yang telah dijalankan selama empat tahun ini. Walaupun akan menjadi debat yang hangat, tapi sifatnya menjadi ilmiah dan memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.

Saya sangat mengharapkan, partai politik baru yang masih "polos" seperti Partai Solidaritas Indonesia dan Partai Garuda sebagai akronim Gerakan pebaharuan Indonesia mau mengisi kekosongan/ kesempatan menjadi oposisi terhadap siapapun yang akan menjadi pemenang pilpres mendatang. Dan saya sangat menyayangkan perkembangan yang terjadi, bahwa partai partai baru malah sudah terkooptasi ke dalam kedua kubu yang sedang berkompetisi. Masing masing partai baru ini memilih berada dalam kelompok diantara kedua kubu, lengkap dengan pernyataan yang menunjukkan pilihan itu.

Kedua partai baru ini (maaf, saya kebetulan hanya punya kesempatan mengikuti sedikit informasi dari kedua partai ini) yang sama sama mengaku sebagai partai bagi "orang muda". Sangat saya harapkan tokoh tokohnya mau dan mampu menciptakan kondisi politik yang lebih santun, beradab, rasional dan bertanggung jawab dan siap menjadi wadah bagi politikus muda yang akan mewarisi masa depan bangsa ini. Kiranya mereka tidak meneruskan langkah yang sudah mulai mereka ayunkan. PSI sudah memperjelas keberpihakannya kepada Partai Pemerintah sedang Partai Garuda cenderung mengarah ke partai oposisi.

Saya jadi memiliki penilaian negative atas langkah kedua partai ini. Seakan mereka "menunggu durian runtuh" dengan harapan kelompok yang mereka pilih untuk berpihak akan memenangkan pilpres mendatang dan mereka mengambil keuntungan daripadanya. Saya khawatir, kondisi ini hanya disebabkan keterikatan secara moral dan primordial kepada tokoh tokoh yang sedang berkompetisi. Bukan karena kesamaan konsep berfikir.

Dan bila itu benar, maka masyarakat tidak perlu berharap bahwa partai politik baru yang mengidentikkan diri mereka sebagai partai orang muda akan banyak membawa perubahan positip bagi bangsa ini. Paling mereka "setali tiga uang" dengan politikus masa kini dan masa lalu. Semua berorientasi pada kepentingan pribadi dan kelompok masing masing. Kacian deh rakyat......!


   
Penulis : Drs. Rudy Marodjahan Saragi
Jabatan : Pemimpin Redaksi
Sumber :