Opini Share articles in social media :
 

Seorang Bapak Bangsa Telah Lahir

Photo
 
MAHFUD MD

POL Publikasi Online - Jakarta, 22 Agustus 2018
Sikap yang dipertontonkan Prof. Mahmud MD di Indonesia Lawyer Club baru - baru ini, berupa penjelasan bagaimana beliau sempat "diperintahkan" oleh istana untuk bersiap siap menjadi cawapres Jokowi serta bagaimana beliau menyikapi kegagalannya menjadi cawapres sangat banyak mendapat pujian dari masyarakat (termasuk sebagian elit politik). Sebagai seorang putra Madura yang juga dikenal "keras dan fanatik ekstrim", rupanya "perantauannya" ke Jogyakarta serta pengalamannya sebagai Menteri di jaman Presiden Abdurracham Wachid, Ketua Mahkamah Konstitusi telah menjadikan dirinya sebagai pribadi yag matang walau usianya masih relative muda (61 tahun).

Menyimak penampilannya di ILC yang disebut diatas, pemirsa bisa merasakan rasa kecewa yang ada dalam dirinya ketika gagal menjadi cawapres. Tapi dari pemaparannya jelas bisa dilihat bahwa kekecewaanya tidak melulu karena kegagalan itu, namun lebih cenderung perasaan kecewa itu muncul dari sikap orang orang yang telah "mengganjal karirnya" dalam melakukan pengabdian kepada bangsa ini. Hasratnya menjadi capres tentu muncul karena tawaran yang disampaikan kepadanya, bukan karena usaha menawarkan diri seperti yang dilakukan banyak tokoh. Kekecewaannya bertumpu pada tokoh yang telah menafikan dirinya sebagai "Kader Nahdatul Ulama/NU" sementara perjalanan hidupnya diwarnai kelekatannya dengan NU. Kalaupun dia kecewa dengan sikap Cak Imin yang menyebut bahwa "Mahfud sendiri saja yang mengada ada seakan dia pasti akan menjadi cawapres" terlihat jelas bahwa tingkat kekecewaannya karena hal itu sangat kecil dan tak begitu berarti.

Hal paling berharga pada Mahfud MD dalam menyikapi gagalnya dia menjadi cawapres adalah "keikhlasan terhadap takdir" yang dialaminya. Dia ungkapkan bahwa "Jokowi tak perlu merasa bersalah, dan dalam keadaan seperti ini dia juga akan mengambil sikap yang sama". Maksudnya tentu dia tidak menyalahkan Jokowi yang merubah pendiriannya pada detik detik terakhir karena tekanan dari luar dirinya, tapi yakin bahwa tindakan itu diambil oleh Jokowi demi sebuah tujuan yang lebih besar dan luhur, demi ketenteraman dan keamanan bangsa dan Negara.

Penolakannya untuk menjadi Ketua Tim Sukses Jokowi rasanya tidak dapat diartikan sebagai reaksi atas kekecewaan yang dialaminya, Tapi terlihat sebagai sikap yang konsekwen dalam menunjukkan bahwa Mahfud MD bukan tokoh yang "rakus" akan jabatan dan popularitas. Ketika kubu Prabowo - Sandiaga membaca kekecewaan dalam diri Mahfud MD, mereka ingin memanfaatkannya dengan menawarkan posisi sebagai Ketua Tim Sukses. Kalau salah satu dari tawaran sebagi Ketua Tim Sukses dari kedua kubu ini diterima, hampir pasti dan dapat dibayangkan, kalau pihak yang dipilihnya menang, posisi sebagai Menteri pasti ada ditangannya. Tapi karena dia memiliki pemikiran yang berbeda dari orang orang yang mendambakan jabatan dan popularitas, tawaran jadi Menteri dari Jokowi beberapa waktu lalu telah ditolaknya. Nuraninya tidak terima. Pada pemilu lalu dia menjadi tim sukses Prabowo lantas akan diberi jabatan oleh Jokowi yang memenangkan pertarungan pada pilpres itu. "Banyak orang yang ikut berkeringat berjuang untuk memenangkan Jokowi lebih berhak atas jabatan itu", katanya menyikapi walau dia juga yakin tawaran itu dilandasi oleh integritas dan kapabilitas yang ada pada dirinya.

Pilihannya untuk tetap berkiprah di BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) adalah juga pilihan yang cukup tepat. Kondisi riel ideologi bernegara masyarakat bangsa tengah mengalami kondisi yang memprihatinkan. Munculnya kelompok ISIS sebagai gerakan bahwa tanah di Indonesia terlihat hanya merisaukan pemerintah dan aparatnya. Tidak merisaukan masyarakat secara signifikan. Gejala mundurnya kualitas ideologi bernegara yang semestinya berorientasi pada Pancasila juga sudah terlihat dalam proses pilkada dan kalau tidak ada usaha yang signifikan akan terlihat juga nanti pada pemilu serentak tahun 2019. Waktu yang hanya tinggal beberapa bulan ini harus dimanfaatkan oleh BPIP untuk mengukuhkan dan mengokohkan ideologi masyarakat dalam bernegara menurut konsep Pancasila.


   
Penulis : Drs. Rudy Marodjahan Saragi
Jabatan : Pemimpin Redaksi
Sumber :