Opini Share articles in social media :
 

Menggagas Uang Asean

Photo
 
Ilustrasi

POL Publikasi Online - Jakarta, 10 September 2018
Di saat gonjang - ganjing pelemahan rupiah terhadap Dollar AS yang dijadikan amunisi oleh lawan politik pemerintah menghadapi Pemilu 2019 rasanya perlu mengambil hikmat dan menjadikannya sebuah momentum pengambilan langkah yang tepat, bahkan sangat tepat menurut saya.

Beberapa waktu lalu pemerintah lewat Lembaga moneter pernah menggaungkan ide "denominasi" rupiah. Dengan denominasi ini dimaksudkan untuk menghilangkan tiga angka nol dari setiap rupiah tanpa mempengaruhi nilainya. "Hanya penyederhaan" begitu konon maksudnya. Entah kenapa hal itu tidak pernah ditindak lanjuti. Mungkin khawatir akan dampak psikologis masyarakat yang masih teringat seenering masa lalu dimana seribu rupiah dijadikan satu rupiah. Katanya tidak merubah nilai. Seribu rupiah "oeang lama" sama dengan satu rupiah "uang baru". Tapi bagi yang sempat merasakan, inflasi yang terjadi bahkan disebut sebagai hyper inflasi. Mungkin tidak akan hubungan langsung antara tindakan seenering dengan hyper inflasi, karena fundamental ekonomi masa itu memang sedang bobrok - bobroknya dan penyebab utamanya adalah korupsi dan foya - foya "Sang Pemimpin Besar".

Saya tidak bermaksud menggugah pemerintah untuk melanjutkan rencana denominasi itu. Saya lebih cenderung menganjurkan tindakan yang lebih revolusioner dan mendunia. Kita sudah melihat Euro (ah bisa bersatu menciptakan mata uang "EURO" yang kelihatannya cukup manjur menghadapi dominansi Dollar AS dalam perekonomian dunia. Kenapa kita tidak mencontohnya dengan mengajak Negara - Negara ASEAN yang sementara ini bisa dikatakan senasib dalam menghadapi dominasi Dollar milik Paman Sam.

Sri Mulyani sebagai tokoh yang sudah dikenal dunia tentu akan mendapat perhatian dan kepercayaan bila mulai merintis dan memprakarsai rencana ini. Bahkan bila memungkinkan bisa diperluas dengan beberapa Negara Asia lain diluar beberapa Negara yang termasuk kuat seperti China dan Jepang. Realisasinya kita serahkan pada para ahli moneter saja. Saya hanya ingin menjadi trigger pengusul, walau saya yakin banyak tokoh tokoh dan ahli keuangan yang juga berfikiran sama.

Soal nama uangnya kelak, juga saya percaya para ahli akan menemukan nama yang tepat untuk mata uang baru ini. Bila perlu beri dia nama "HEPENGTA" yang artinya dalam BAHASA Batak "Uang Kita". Ha...ha...


   
Penulis : Drs. Rudy Marodjahan Saragi
Jabatan : Pemimpin Redaksi
Sumber :