Opini Share articles in social media :
 

Selamat untuk AHY
yang mulai Menapak Memimpin Partai

Photo
 
Susilo Bambang Yudhoyono dan Agus Harimurti Yudhoyono

POL Publikasi Online - Bekasi, 11 Oktober 2019
Berita terakhir menyebutkan Agus Harimurti Yudhoyono telah diberi tugas oleh ayahandanya SBY yang Ketum Partai Demokrat menjabat posisi sebagai Wakil Ketua Umum di partai berlambang mercy tersebut. Wajar kalau kita menduga bahwa langkah awal ini akan berlanjut dengan penyerahan pucuk pimpinan tertinggi partai dalam waktu dekat. Posisi sebagai Waketum ini telah berlaku effektip walau persyaratan administratip yuridis dari Kemenkumham sedang diurus oleh internal partai.

Walau tidak menarik bila dilihat dari proses "regenerasi" nya yang seolah berupa pewarisan yang tidak sesuai dengan azas demokrasi organisasi kepartaian, namun munculnya AHY sebagai calon pemimpin partai yang cukup besar dalam waktu dekat ini mau tak mau cukup menarik perhatian dan menimbulkan harapan baru dalam melihat iklim partai politik masa depan.

Menoleh sejenak ke belakang bagaimana AHY meninggalkan TNI dan terjun ke politik mau tak mau memberi harapan dan kesan bahwa dia tidak hanya membeo pada titah ayahanda, namun karena dalam dirinya tersimpan sebuah cita - cita dan obsesi politik. "KITA SANGAT MENGHARAPKAN, CITA - CITA DAN OBSESI ITU SEJALAN DENGAN CITA CITA DAN OBSESI MASYARAKAT BANYAK INDONESIA YAKNI MUNCULNYA PARTAI POLITIK YANG BERPIHAK PADA KEPENTINGAN RAKYAT, TIDAK HANYA MENGURUS KEPENTINGAN KELOMPOK SAJA."

Apa yang harus dilakukannya untuk mencapai hal itu rasanya tidaklah terlalu sulit dan rumit. Hanya saja memang perlu pengorbanan, terutama korban perasaan. Pengorbanan pertama adalah menetapkan pilihan menjadi pemimpin partai dari pada menjadi menteri yang kelihatannya juga terbuka untuknya. Menjadi pemimpin partai lebih memberi peluang menjadi pemimpin masa depan karena akan sangat tergantung pada kapabilitas pribadi yang terasah dibanding menjadi menteri yang berada dibawah bayang bayang seorang presiden. PENGORBANAN selanjutnya adalah kesiapannya “menyingkirkan” tokoh - tokoh partai yang loyal pada sang ayahanda di masa lalu namun "berbahaya" untuk diajak membesarkan partai di masa depan. Tak berguna karena aroma mental korup atau gerakannya tidak cukup gesit untuk mengikuti pemimpin yang baru (AHY). Selanjutnya adalah pengorbanan biasa dan harus yakni berani bekerja keras dan konsisten pada tujuan, menjadikan partai Demokrat menjadi partai kebanggaan masyarakat.

Langkah - langkah apa saja yang harus dilakukan AHY rasanya tak perlu di komentari lagi. Pengalamannya sebagai prajurit yang sempat mencapai posisi perwira menengah kita yakini banyak berisi gagasan dan pemikiran yang bisa dilaksanakan. Tinggal menggugah dan mengingatkan dirinya bahwa didepan terbentang kesempatan menjadi pemimpin bangsa yang sejalan dengan harapan rakyat banyak.

Tapi tidak ada salahnya, sekedar mengingatkan dengan memberi panduan berikut :

Langkah awal yang harus dilakukannya adalah melakukan pendekatan kepada seluruh elemen partai, mengenal siapa loyalis sejati dan siapa yang "penjilat" untuk kemudian menghimpun kekuatan agar "Munas" memberi kepercayaan mutlak bagi dirinya untuk memimpin partai.

Selanjutnya adalah mengisi kepengurusan partai dengan orang orang "bersih" yang punya misi yang sama dengan dirinya. Melakukan konsolidasi intens dengan mereka dan sungguh - sungguh menanamkan keinginan bersama menjadikan Partai Demokrat partai kebanggaan rakyat. Langkah lanjutannya adalah menginventarisasi pimpinan partai di tingkat daerah yang bisa menerima "keinginan bersama" seperti tersebut diatas dan mensosialisasikan tokoh - tokoh tersebut agar jalan mereka menjadi pendukung masa depan menjadi mulus.

   
Penulis : Drs. Rudy Marodjahan Saragi
Jabatan : Pemimpin Redaksi
Sumber : -
   

  Design Web & Script Program : Yoanna Moenir Saragi